Jumat, 24 Mei 2013

Matahari Yang Tak Membutuhkan Bulan

Tak sengaja aku mendengar percakapan antara Matahari dan Bulan. Mereka terdengar seperti sedang bertengkar, oh tidak, lebih tepatnya Bulan sedang memohon kepada matahari, memohon untuk tidak meninggalkannya.

“Aku mencintaimu, Aku membutuhkanmu, selalu” kata Bulan kepada Matahari, tetapi Matahari diam tak bergeming.

“Jangan tinggalkan aku. Aku terlalu mencintaimu. Hidupku gelap tanpamu”. Ratap Bulan kepada Matahari yang masih saja diam.

“Aku cuma butuh kamu, tidak butuh yang lain. Katakan bahwa kau membutuhkan aku juga.” Ratapnya lagi.

Matahari mulai mengangkat wajahnya yang sedari tertunduk membisu.

“Aku menyayangimu besar sekali, tapi itu dulu.” Ucap Matahari yang terlihat bosan dengan percakapannya.

“Asal kau tahu, Bulan, sekarang perasaan yang ku punya hanyalah rasa kasihan padamu. Padamu yang tak bisa bercahaya bahkan untuk dirimu sendiri.” Ucap Matahari yang terlihat sudah muak sementara Bulan mulai tertunduk.

“Aku lelah melihat kau terus bergantung padaku, aku bosan harus selalu berada didekatmu.” Bulan pun mulai menitikan air mata dalam tunduknya.

“Aku tidak membutuhkanmu lagi” ucap Matahari yang setelah itu perlahan-lahan pergi meninggalkan bulan.

“Tidak kah kau sadar bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan?” ucap bulan setengah berteriak dengan suara paraunya, berharap matahari mau mendengar dan menghentikan langkahnya. Tapi ia tetap pergi.

Bulan pun mulai tersedu-sedu. Ia tak menyangka Matahari yang begitu ia cintai dan mencintainya (dulu) berubah menjadi seangkuh itu. Disaksikan para langit, bintang, meteor, planet, satelit, dan yang lainnya, ia tetap menangis dan terisak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar