“Aku mencintaimu, Aku membutuhkanmu, selalu” kata Bulan
kepada Matahari, tetapi Matahari diam tak bergeming.
“Jangan tinggalkan aku. Aku terlalu mencintaimu. Hidupku gelap
tanpamu”. Ratap Bulan kepada Matahari yang masih saja diam.
“Aku cuma butuh kamu, tidak butuh yang lain. Katakan bahwa kau membutuhkan aku juga.” Ratapnya lagi.
Matahari mulai mengangkat wajahnya yang sedari tertunduk
membisu.
“Aku menyayangimu besar sekali, tapi itu dulu.” Ucap Matahari
yang terlihat bosan dengan percakapannya.
“Asal kau tahu, Bulan, sekarang perasaan yang ku punya
hanyalah rasa kasihan padamu. Padamu yang tak bisa bercahaya bahkan untuk
dirimu sendiri.” Ucap Matahari yang terlihat sudah muak sementara Bulan mulai
tertunduk.
“Aku lelah melihat kau terus bergantung padaku, aku bosan
harus selalu berada didekatmu.” Bulan pun mulai menitikan air mata dalam
tunduknya.
“Aku tidak membutuhkanmu lagi” ucap Matahari yang setelah
itu perlahan-lahan pergi meninggalkan bulan.
“Tidak kah kau sadar bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai
satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan?” ucap bulan setengah berteriak dengan
suara paraunya, berharap matahari mau mendengar dan menghentikan langkahnya. Tapi
ia tetap pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar