Sabtu, 15 Februari 2014

sebentar saja

Rasaku ingin pergi
Tapi kakiku enggan berlari
Rasaku ingin mati
Tapi kenyataan memaksaku untuk terus bangun dan tetap mengejar mimpi
Bolehkah sejenak aku diam?
Mengistirahatkan paru-paru yang sudah terlalu sesak akan oksigen yang mengandung duri.
Bolehkan lah sejenak pundakku bersandar pada topangan yang lebih kokoh dari beban yang menunggangi pundakku.
Sebentar saja aku ingin dipeluk olehMu, mengadu dalam tangis direngkuganMu.
Sebentar saja aku ingin teteskan air mata yang lama tertahan dipelupuk mata.
Sebentar saja aku ingin berteriak mengeluhkan pahit yang menggelayuti hidupku.
Sebentar saja inginku dapatkan apa yang belum pernah ku rasakan.
Bolehkah? Sebentar saja.
Tidak akan lebih dari sebentar.

Kamis, 06 Februari 2014

Surat untuk Ayah

Malam ini aku sangat merindukanmu, Ayah.
Baru saja aku selesai berbincang dengan seseorang yang ku sayangi.
Ditengah percakapanku tadi, terdengar suara ayahnya memanggilnya. Semacam meminta sesuatu.
Mendengar suara beratnya, aku jadi sangat merindukanmu.

Aku rindu suaramu ketika memerintah aku atau ibu atau saudara yang lain.
Bolehkan aku rindu ayahku sendiri?
Kamu makin jauh, yah.

Aku rindu sosokmu yang dulu, yang sangat mencintai keluargamu. Aku tau sekarang pun cintamu tak berubah pada kami, hanya saja keadaan sudah tak sama, tak lagi sehangat dulu.
Aku rindu kebersamaan kita dulu.

Aku rindu diajak ke toko kaset. Dulu kita masih punya tape, yah. Aku dan ibu pernah ayah ajak ke toko kaset untuk membeli kaset lagu-lagu penyanyi cilik.
Waktu itu sepertinya umurku masih enam tahun.
Waktu itu juga ayah belikan abang film zorro.
Aku masih ingat pahlawan berkuda dengan jubah hitam dan topeng setengah wajah memegang pedang panjang ditangannya.

Aku rindu tidur didalam kelambu kemudian terbangun karna kumismu membuat pipiku geli. Ayah selalu menciumku ketika akan berangkat bekerja. Berbeda dengan sekarang. Sekarang bukan kecup dan tanganmu yang membangunkan aku jika kamu ingin berangkat kerja, tapi uang yang hadir disaat aku pertama kali membuka mata.

Aku rindu pergi ke mall bersamamu, ayah.
Dulu kita selalu pergi ke mall bersama ketika aku butuh tas baru.
Aku masih ingat waktu itu ayah belikan aku tas barbie warna pink. Tasnya keren, bisa dijadikan koper.
Kemudian kita ke carrefour, kita ke bagian mainan. Aku pun melihat ke rak barbie beserta aksesorisnya. Tanpa harus memaksa ayah langsung ambilkan itu semua untukku.
Aku beruntung waktu itu bisa berbelanja bersamamu.

Aku rindu pergi ke toko buku bersamamu.
Dulu kita hobi pergi ke gunung agung, yah. Aku lupa apakah gramdia sudah ada waktu itu.
Waktu itu ayah masih gemar membaca buku-buku yang sangat agamis. Aku pun kamu belikan buku-buku cerita tentang nabi-nabi. Banyak sekali yah. Aku sempat cemberut karena buku komik yang aku inginkan tidak ayah belikan.

Aku rindu diajak pergi bersama kekantormu.
Waktu itu aku kekantor ayah untuk sekedar bermain.
Dulu ayah belum punya motor, jadi kita kesana naik bis besar. Aku lupa bisnya nomer berapa. Yang aku ingat cuma, disana banyak penjual permen jahe dan permen-permen yang dibungkus plastik kecil.
Aku masih ingat ayah selalu belikan aku banyak permen. Ada sugus, fruitella, permen susu yang ada kertas agar-agarnya, nano-nano, hexos, alpenliebe, ada lagi permen sapi namanya milkita.
Sesampainya dikantor, ayah menyedikanku satu meja kosong yang ada komputernya, terus ayah membukakan aku permainan who wants to be a millionaire. Lucunya ayah mengajarkan aku cara curang untuk menang. Jika aku bosan, ayah memberiku permainan lain.

Aku rindu belajar bersama ayah.
Ayah yang selalu buat aku mengerti pelajaran matematika, pelajaran yang tak pernah kusuka.
Dulu waktu aku masih kelas satu SD, ayah ajarkan aku matematika kelas 5 SD. Sampai ketika aku kelas 2, aku sudah mampu mengerjakan soal kelas 6 SD.
Waktu aku memasuki bangku SMP, ayah belikan aku komputer walaupun saat itu ayah hanya mampu belikan kami komputer pentium dua.
Saat itu ayah selalu ajarkan kami bagaimana mengoperasikan komputer. Bagaimana mengetik dengan 10 jari, bagaimana membuat surat dengan ms. Word, bagaimana membuat slide yang bisa tampil otomatis dengan clip art, word art dan picture yang keren-keren.
Tahukah ayah, waktu aku SMP cuma sedikit yang mengerti komputer, dan aku adalah salah satu dalam kategori sedikit itu.

Semua berkat ayah.
Aku rindu semua masa-masa itu, yah.
Aku bukan hanya butuh uang, aku masih sangat butuh perhatian dan kasih sayang yang nyata.
Aku masih jadi gadis kecilnya ayah.
Dan selamanya akan tetap menjadi seperti itu.
Aku rindu ayah yang selalu hangat pada ibu.
Aku rindu ayah yang akan selalu buru-buru pulang kerumah setiap mendengar aku sakit.
Aku rindu sosok ayahku yang dulu, ketika kita masih dengan kehidupan yang sangat sederhana.
Aku rindu ayah yang galak tapi tidak pernah tidak peduli pada anak-anaknya.
Bukan seperti saat ini. Saat ini aku seperti tak punya ayah.
Aku iri dengan teman-temanku yang ayahnya seperti sosok ayahku dulu.
Aku sangat merindukan ayah.
Kembali seperti dulu, yah.











Million love from your litle girl
7/2/14

Minggu, 02 Februari 2014

Bosan

Mudah.. sangat mudah menjadi seseorang yang menyenangkan untuk orang lain, untuk membahagiakan orang lain.
Mudah untuk menjadi orang yang ramah, selalu tertawa, menjadi pendengar yang baik nan setia, menjadi orang yang lembut tanpa pernah bisa marah.
Namun pernahkan kamu liat ada guratan bosan diwajahku?
Aku lelah menyenangkan orang lain.
Aku juga ingin disenangkan.
Aku juga ingin menangis, ingin diberi pelukan ketika tubuhku tak mampu lagi menopang semua yang disebut beban.
Aku juga ingin didengarkan tanpa dicela disela bicaraku, aku ingin didengarkan sepenuh hati selayaknya aku mendengarkan mereka ketika hidup mereka dipenuhi kekalutan pun kegelisahan.
Aku juga sesekali ingin marah, ingin berteriak, ingin memaki agar lepas semua yang selama ini tak bisa ku katakan. Aku ingin marah dan tak ada seorang pun yang mengganggap aku sedang bergurau.
Aku bosan menjadi lembut, menjadi perasa. Aku bosan terlihat kuat. Aku bosan menahan air mata dan marahku.
Aku sudah bosan.
Bosan sekali.

ssssttt...

Hidup kadang terlalu menyebalkan, terlalu apatis, dan kadang terasa membosankan.
Adakah pintu menuju dunia luar yang tidak ada luka atau kepedihan juga kesedihan?
Adakah dunia diluar sana yang mampu menenangkan jiwa dan raga tanpa harus merasa gelisah seperti saat sedang menunggu kematian?
Adakah tempat yang mampu menghipnotis pikiran dan mengalihkan dari kelamnya kehidupan saat ini?
Aku butuh rasa bahagia, rasa dicintai sepenuh hati, rasa selalu diinginkan, rasa tak pernah akan ditinggalkan.
Aku sudah tidak butuh lagi perasaan disia-siakan.
Sudah.. aku cuma ingin berbahagia bercampur tenang.